Laman

Rabu, 01 Februari 2012

KETIKA CINTA BERBUAH SURGA

Oleh Habiburrahman El Shirazy




Di tanah KURDISTAN, ada seorang raja yang adil dan saleh. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Said. Ayahnya selau bercerita tentang kepahlawanan para panglima dan tentara di medan perang. Sang raja selalu menasehati anaknya untuk mencari teman sejati. Karena dalam suka dan duka, teman yang baik akan mengubah said menjadi orang baik, yang kau ajak bercinta untuk Surga. Orang yang berteman denganmu, harus mencintaimu karena Allah. Bukan karena harta. Karena dengan dasar itu kau bisa mencintainya dengan penuh keikhlasan karena Allah. Kakuatan cinta kalian akan melahirkan kekuatan dahsyat yang membawa manfaat dan kebahagiaan. Kekuatan cinta itu juga akan bersianar dan membawa kalian masuk surga.
Akhirnya Said meminta ijin kepada ayahnya. Lalu Said pun mulai berpetualang, Said melewati Hutan, Ladang, Sawah dan Kampung-kampung untuk mencari seorang teman sejati. Sampai akhirnya, Said bertemu dengan anak seorang pencari kayu yang berpakain sederhana, namanya adalah Abdullah. Diam-diam Said mengikuti anak itu dan sampai di gubugnya. Rumah dan pakaian anak itu menunjukan ia sangat miskin. namun wajah dan sinar matanya mencerahkan tanda kecerdasan dan kebaikan hati. Setelah anak itu selesai solat, Lalu Said mengajaknya untuk bermain-main. Tetapi anak itu merasa tidak pantas bermain dengan Said, karena ia hanya orang miskin.
Said menyahut anak itu. Semua adalah hamba Allah. Semuanya sama, hanya takwa yang membuat orang mulia disisi Allah. Tapi anak itu mempunyai syarat bila ingin berteman dengannya. Dan Said menyepakati syarat anak penacri kayu bakar itu. Sejak hari itu mereka bermain bersama. Anak tukang kayu itu mengajari Said berenang di sungai, mengajarinya menggunakan panah, dan sebaginya. Said gembira sekali dengan anak yang cerdas, rendah hati, lapang dada dan setia.
Keesokan harinya, Said dan teman barunya pergi menelusuri hutan. Dan Said juga di kenalkan berbagai jenis dedaunan dan buah-buahan yang ada di hutan. Mana daun yang bisa dimakan, dan buah yang tidak bisa di makan, yang bisa dijadikan obat, dan yang beracun. Seketika itu Said tau bahwa ilmu tidak hanya bisa di dapatkan di Madrasah seperti yang ada dikerajaan saja. Ilmu ada dimana-mana. Bahkan di hutan sekalipun. Tatakala matahari sudah condong ke barat. Lalu tak lupa pun Said mengundangnya makan bersama di rumahnya besok.
Pagi harinya, anak pencari kayu itu sampai ke istana. Ia tak menyangka bahwa Said adalah anak seorang Raja. Pertama ia ragu untuk masuk istana, tapi mengingat kebaikan dan kerendahan hati Said selama ini akhirnya anak itu pun berani masuk kedalam. Seperti anak-anak sebelumnya, Said telah menyiapkan 3 butir telur untuk menguji temannya itu. Ia membiarkannya menunggu lama sekali. Namun anak itu sudah terbiasa tidak pernah makan sampai 3 hari. Selama ini ia mendengar bahwa anak-anak keturunan bangsawan sukanya hura-hura. Tapi ia menemukan seorang anak raja yang santun dan soleh.
Said mempersilahkan untuk mengambil telur. Lalu ia mengambil telurnya dan mengupas perlahan-lahan. Anak miskin itu mengambil pisau yanga da di dekatnya. Lalu ia membelah telur itu menjadi dua. Yang satu untuknya dan yang satu lagi untuk Said. Said pun menagis terharu. Said lalu memeluk anak itu.
Sejak saat itu keduanya berteman dan bersahabat dengan sangat akrabnya. Dan persahabatan mereka melebihi seperti saudara kandung. Mereka saling mencintai dan saling menghormati karena allah swt. Karena kekuatan cinta itu mereka bahkan sempat bertahun-tahun mengembara bersama untuk belajar dan berguru pada para ulama yang tersebar di Turki, di Syiria, di Irak, di Mesir dan di Yaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar